Pesan Menohok Jumat Agung 2026: Jangan Cuma Ikut Yesus Saat Senang!

Pesan Menohok Jumat Agung 2026: Jangan Cuma Ikut Yesus Saat Senang!

Sidoarjo – Kebaktian Jumat Agung yang digelar pada 3 April 2026 di GKJW Sidoarjo, Jalan Kombes M Duryat 66, berlangsung khidmat dengan mengusung tema liturgis “Ratu Adil Segenap Ciptaan” serta tema khotbah “Menjadi Hamba yang Setia dan Rela Menderita.”

Ibadah ini dipimpin oleh Pelayan Firman, Pdt. Noven Rudy Nataniel, S.Si, dengan bacaan Alkitab dari Yohanes 18:1–19:42.

Dalam khotbahnya, Pdt. Noven mengajak jemaat untuk merenungkan peristiwa penyaliban Yesus Kristus yang terjadi sekitar 2.000 tahun lalu. Ia menegaskan bahwa penderitaan yang dialami Yesus bukanlah hal yang ringan, melainkan penuh pengkhianatan, penghinaan, hingga siksaan fisik.

“Peristiwa penyaliban, peristiwa di mana Tuhan Yesus Kristus menyerahkan dirinya. Ia tahu ada peristiwa berat yang akan dijalani, namun tetap setia menjalani perjalanan itu,” ujarnya.

Menurutnya, penderitaan tersebut juga mencakup ditinggalkan oleh orang-orang terdekat. Padahal sebelumnya, Yesus dikenal diikuti ribuan orang dan melakukan banyak mukjizat.

“Namun ketika sang pemberi ini mengalami penderitaan, murid-muridnya bahkan Petrus enggan mengakui apakah ia mengenal Dia. Mereka takut karena melihat sang guru mengalami penderitaan yang luar biasa,” katanya.

Pdt. Noven menilai situasi tersebut menjadi refleksi bagi umat Kristen masa kini, apakah masih mampu menjadi murid yang setia di tengah tantangan kehidupan.

“Dengan situasi yang dialami oleh Gusti Yesus Kristus, siapkah kita melanjutkan sebagai generasi murid-murid Tuhan?” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya fokus dalam beribadah dan tidak terdistraksi oleh hal-hal duniawi, termasuk penggunaan ponsel saat berada di rumah Tuhan.

“Apakah kita menatap Tuhan dalam keagungannya ataukah kita menatap handphone kita? Ini sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua,” tegasnya.

Dalam khotbahnya, ia turut menyinggung kisah Santo Laurensius sebagai teladan kesetiaan iman. Laurensius dikenal sebagai diaken gereja pada masa Kekaisaran Romawi yang tetap membela kaum miskin meski harus menghadapi ancaman hukuman mati.

“Ia memilih jalan yang diyakini benar. Ia membagikan harta gereja kepada orang-orang kecil, meski tahu konsekuensinya adalah kematian,” jelasnya.

Bahkan, menurut kisah kemartirannya, Laurensius mengalami siksaan yang sangat kejam. “Ia dipanggang, bukan sekadar dibakar. Namun tubuh yang hancur itu tidak menghancurkan imannya,” tutur Pdt. Noven.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Jumat Agung bukan sekadar mengenang penderitaan, tetapi juga meneladani kasih, pengampunan, dan kesetiaan Yesus.

“Berbicara tentang Jumat Agung adalah berbicara tentang keteladanan. Keteladanan menjadi hamba yang setia, meskipun harus mengalami penderitaan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam hidup, manusia tidak bisa mengendalikan tindakan orang lain, seperti pengkhianatan atau luka yang diberikan. Namun, setiap orang memiliki kendali atas sikap diri sendiri.

“Ada self control, ada pengendalian diri. Aku tetap mengasihi atau tidak? Aku tetap mendoakannya atau tidak?” ujarnya.

Menutup khotbahnya, Pdt. Noven menegaskan bahwa pengorbanan Yesus merupakan wujud kasih Allah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari umat.

“Pengampunan, kasih, setia, dan pengorbanan yang dinyatakan Gusti Yesus Kristus merupakan kehendak Allah yang dicurahkan dalam kehidupan umat-Nya,” pungkasnya. (ted)

Teddy Ardianto

Leave a Reply