Bukan Kompetisi, Undhuh-Undhuh adalah Uji Diri Memberi Persembahan Terbaik

Bukan Kompetisi, Undhuh-Undhuh adalah Uji Diri Memberi Persembahan Terbaik

Sidoarjo – Perayaan Hari Raya Undhuh-Undhuh menjadi momentum penting bagi umat Kristiani untuk mengucap syukur atas berkat Tuhan. Begitiu juga jemaat Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Sidoarjo pada Minggu 3 Mei 2026.

Sejumlah natura dari warga jemaat diserahkan di gereja dan dilelang kepada warga

Dalam khotbahnya, Pdt. Noven Rudy Nataniel mengingatkan jemaat agar tidak hanya menikmati berkat, tetapi juga membagikannya kepada sesama.

Ia membuka ibadah dengan ajakan penuh sukacita, seraya mengutip firman Tuhan dalam Kitab Ulangan.
“Hari ini kita bersyukur, kita dapat merayakan Unduh-Unduh. Di dalam Ulangan 8:7-10, firman Tuhan mengingatkan kita: Tuhanlah yang membawa kita masuk ke negeri yang baik, Tuhanlah yang memberi kelimpahan, dan Tuhanlah yang mencukupkan segala kebutuhan kita,” ujarnya.

Menurutnya, setiap berkat yang diterima bukan untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagikan.
“Oleh karena itu, setiap berkat yang kita terima dari Tuhan, bukan untuk kita genggam sendiri, tetapi untuk kita bagikan,” tegasnya.

Dalam suasana ibadah yang penuh sukacita, jemaat diajak untuk datang dengan kerendahan hati membawa persembahan syukur. Ia pun mengajak jemaat memulai kebaktian dengan pujian.

“Marilah kita datang dengan penuh kerendahan hati, membawa persembahan syukur kita, dan memulai kebaktian ini dengan penuh sukacita,” katanya.

Refleksi Makna Undhuh-Undhuh

Dalam khotbahnya, Pdt. Noven juga menyinggung realitas yang kerap muncul saat perayaan Undhuh-Undhuh, yakni pertanyaan seputar jumlah persembahan yang terkumpul.

“Setiap kali mempersiapkan Unduh-Unduh, hampir selalu ada pertanyaan di dalam benak, ‘kira-kira tahun ini dapat berapa?’,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pertanyaan tersebut bukan semata-mata sikap materialistis, melainkan bagian dari tanggung jawab jemaat dalam mendukung pelayanan gereja. “Di balik segala pertanyaan itu, pelayanan gereja juga bertumbuh dari berkat-berkat yang diterima,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak hanya bergantung pada hitungan manusia semata, melainkan juga pada penyertaan Tuhan.

“Manusia dalam proses hidup tidak hanya mengandalkan ukuran matematika dirinya saja, tetapi juga melibatkan Tuhan,” ujarnya.

Ia mencontohkan mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu memberi makan ribuan orang sebagai bukti bahwa kuasa Tuhan melampaui logika manusia. “Ada situasi yang tidak terduga ketika hati dan hidup sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan,” imbuhnya.

Jangan Lupa Tuhan di Masa Kelimpahan

Lebih lanjut, Pdt. Noven mengingatkan kisah perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian. Menurutnya, perjalanan panjang penuh tantangan itu menjadi pelajaran penting tentang iman dan ketergantungan kepada Tuhan.

Ia menegaskan, justru dalam kondisi berkecukupan, manusia sering kali lupa kepada Tuhan.
“Ketika engkau sudah ada dalam situasi yang penuh dengan kelimpahan, jangan engkau melupakan Tuhan. Ini sebuah peringatan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa melupakan Tuhan tidak hanya terjadi saat menghadapi kesulitan, tetapi juga saat hidup dalam kemakmuran.“Lupa itu juga bisa saja ketika semua ada, makmur dan lain sebagainya,” tuturnya.

Melalui perayaan Undhuh-Undhuh, ia mengajak seluruh jemaat untuk terus memelihara iman dan mengingat Tuhan dalam segala situasi kehidupan.
“Ini panggilan untuk senantiasa memelihara iman kita kepada Allah, memelihara iman kita kepada Tuhan,” pungkasnya.


Merawat Tradisi Asli GKJW

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa tradisi Undhuh-Undhuh telah lama hidup dalam budaya masyarakat Kristen di Jawa Timur, terutama sebagai simbol panen atau hasil yang diperoleh dari Bumi.

“Hari raya panen Undhuh-Undhuh artinya ngunduh panen. Sehingga lek panen, lek ngunduh, ojo lali karo Gusti. Lek panen wis ngunduh ojo lali mengucap syukur,” tuturnya.

Dalam praktiknya, tradisi ini identik dengan persembahan hasil bumi seperti pisang, kelapa, dan berbagai komoditas lainnya. Namun, bagi masyarakat perkotaan, bentuk persembahan tersebut kerap disesuaikan dengan kondisi setempat jemaat berada.

“Kalau di kota biasanya yang diunduh berbeda. Ada yang panen pisang, seperti yang saya alami sendiri, pisang candi dari Pujiarjo Malang Selatan via sopir dan turun di Pasar Porong,” jelasnya.

Ia juga menggambarkan bagaimana di daerah pedesaan, persembahan hasil bumi dalam Undhuh-Undhuh bisa sangat melimpah, bahkan mencapai satu truk penuh.

“Biasanya kalau Undhuh-Undhuh itu pisang satu truk, kelapa besar-besar dan lain sebagainya, benar-benar hasil bumi. Tapi di kota, karena tidak ada yang menanam sendiri, akhirnya mengunduh dalam bentuk membeli di warung,” ungkapnya.

Dalam tradisi gereja, hasil bumi atau natura tersebut kemudian dilelang sebagai bagian dari ungkapan syukur bersama, bukan untuk ajang kompetisi antar jemaat.

“Natura ini akan dilelang sebagai persembahan mengucap syukur. Kita tidak sedang bersaing dengan saudara kita, tetapi kita sedang menguji diri kita sendiri untuk memberikan yang terbaik,” tegasnya.

Ia berharap, melalui perayaan Undhuh-Undhuh, umat dapat semakin memahami makna syukur yang sejati dan menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekiranya Undhuh-Undhuh ini menjadi ungkapan sukacita melalui lantaran natura, lelang, dan persembahan syukur yang kita aturkan,” pungkasnya. (ted)

Teddy Ardianto

Leave a Reply