Natal Sebagai Kesaksian dan Kelahiran Baru Bagi Umat Percaya

Natal Sebagai Kesaksian dan Kelahiran Baru Bagi Umat Percaya

Sidoarjo – Perayaan Natal yang kini dirayakan dengan sukacita ternyata pernah mengalami masa kelam dalam sejarah Kekristenan.

Fakta ini diungkapkan Pendeta Widyah Vastiti dalam renungan Natal di GKJW Sidoarjo jalan Kombes 66 Sidoarjo berdasarkan bacaan Injil Yohanes 1:1–14 dengan tema: ‘Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga’, yang menegaskan bahwa Natal bukan sekadar peristiwa kelahiran Yesus, melainkan momentum kelahiran baru bagi umat percaya.

Dalam khotbahnya, Pdt. Widyah mengawali dengan pertanyaan sederhana namun reflektif.

Janjane sing natalan ki sopo toh? Sing lair kuwi Gusti Yesus. Terus panjenengan teko mriki ngapain?” ujarnya di hadapan jemaat.

Menurutnya, pertanyaan itu mengajak umat untuk memahami makna Natal secara lebih mendalam, tidak hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai peristiwa iman yang fundamental.

Natal Pernah Dianggap Tidak Alkitabiah

Pdt. Widyah mengungkapkan fakta sejarah bahwa pada abad ke-17, perayaan Natal pernah dilarang keras di Britania Raya. Pelarangan itu dilakukan oleh kelompok Kristen Protestan aliran Puritan yang menolak Natal karena dianggap tidak memiliki dasar Alkitabiah.

“Ada satu masa di mana orang Kristen justru melarang perayaan Natal. Bahkan yang merayakan bisa didenda dan dianggap pendosa besar,” jelasnya.

Pendeta Widyah Vastiti

Larangan tersebut bahkan disahkan menjadi keputusan parlemen Inggris pada tahun 1644 dengan dukungan tokoh politik berpengaruh saat itu, Oliver Cromwell. Natal ditiadakan, kebaktian 25 Desember dilarang, dan aktivitas ekonomi tetap berjalan seperti hari biasa.

Dampak Sosial dan Kesalahan Pemahaman

Meski diakui sempat menekan perilaku amoral akibat pesta berlebihan, Pdt. Widyah menegaskan bahwa pandangan anti-Natal kaum Puritan tetap keliru.

“Pandangan orang-orang Kristen Puritan yang anti-Natal itu tidak benar. Justru merekalah yang tidak alkitabiah,” tegasnya.

Ia menilai kesalahan bukan terletak pada Natalnya, melainkan pada cara manusia merayakannya yang keluar dari nilai-nilai iman.

Natal sebagai Kesaksian dan Kelahiran Baru

Mengacu pada Yohanes 1:14, Pdt. Widyah menekankan bahwa Natal adalah peristiwa ketika Firman Allah menjadi manusia dan tinggal di tengah dunia.

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaannya,” kutipnya dari Alkitab.

Ia menjelaskan bahwa frasa “kita telah melihat” menunjukkan posisi orang percaya sebagai saksi atas kelahiran Kristus.

“Kalau melihat, berarti menjadi saksi. Kita ini ada pada posisi yang sama dengan para gembala dan orang Majus, yaitu saksi kelahiran Anak Allah,” ungkapnya.

Karena menjadi saksi atas peristiwa agung itu, umat Kristen dimampukan mengalami lahir baru, yang menjadi inti perayaan Natal.

Natal dan Baptisan: Simbol Kelahiran Baru

Pdt. Widyah juga mengaitkan Natal dengan praktik baptisan yang kerap dilakukan dalam ibadah Natal.

“Baptisan itu simbol lahir baru. Orang yang dibaptis sedang menerima kelahiran baru karena menerima kasih karunia keselamatan dari Allah,” jelasnya.

Menurutnya, Natal bukan hanya memperingati kelahiran Yesus, tetapi juga merayakan kelahiran baru umat percaya yang telah melihat dan menerima kemuliaan Allah.

“Jadi yang sedang natalan itu bukan hanya Tuhan Yesus, tetapi kita juga. Kita sedang berulang tahun secara rohani,” pungkasnya.

Perayaan Natal, dengan demikian, menjadi momen refleksi iman sekaligus peneguhan kasih karunia Allah bagi umat-Nya.

“Selamat Natal. Tuhan memberkati,” tutup Pdt. Widyah Vastiti. (ted)

Teddy Ardianto

Leave a Reply