Kebangkitan Orang Mati dan Logika Tuhan, Pendeta Noven Ingatkan Jemaat

Kebangkitan Orang Mati dan Logika Tuhan, Pendeta Noven Ingatkan Jemaat

Pasuruan – Pendeta Noven Rudy Nataniel, S.Si mengingatkan jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidoarjo untuk tidak terjebak pada pola pikir manusia dalam memahami kebangkitan orang mati, namun belajar menggunakan “logika Tuhan”.

Pesan itu disampaikan dalam ibadah Minggu Retreat KRW Filipi di Villa Tirta Kamandanu, Prigen, Pandaan, Pasuruan, Minggu (9/11/2025) dengan dasar bacaan Lukas 20:27-40 dengan Tema Liturgis: Memperjuangkan Budaya Pro Kehidupan sedangkan Tema Khotbah: Proses Merasakan dan Merayakan Perasaan Orang Lain”

Dalam firman tersebut, ia mengulas pertanyaan menjebak dari golongan Saduki kepada Yesus mengenai konsep kebangkitan.

“Orang-orang Saduki bertanya kepada Yesus dengan pertanyaan jebakan tentang kebangkitan orang mati,” kata Pendeta Noven.

Saduki saat itu mencoba men-jegal Yesus dengan skenario hipotetis. Mereka menggambarkan ada tujuh bersaudara yang menikahi satu perempuan secara berurutan dan semuanya meninggal tanpa keturunan.

Lalu mereka menanyakan: di hari kebangkitan nanti, siapa yang menjadi suami perempuan tersebut?
Pendeta Noven menegaskan, pertanyaan tersebut dibuat untuk menertawakan doktrin kebangkitan.

Namun, Yesus menjawab bahwa logika dunia tidak dapat diterapkan begitu saja pada realitas kekekalan.
Menurut Injil Lukas, Yesus menyampaikan bahwa di “dunia yang akan datang”, manusia dibangkitkan dalam kondisi yang berbeda:

Tidak kawin dan tidak dikawinkan

Tidak akan mati lagi, sebab mereka hidup dalam kekekalan

Mereka hidup seperti malaikat, sebagai anak-anak Allah

Pendeta Noven menekankan, Yesus mengingatkan bahwa kehidupan setelah kebangkitan bukan sekadar kelanjutan dari kehidupan biologis di dunia.

“Orang Saduki memproyeksikan kondisi kehidupan duniawi ke kehidupan surgawi. Itu kesalahan fatal,” ujarnya.

Ia kemudian menutup dengan ajakan kepada jemaat untuk memahami firman bukan hanya dengan akal manusia, tetapi dengan iman dan perspektif Tuhan, agar tidak mudah tersesat dalam logika dunia yang terbatas.

Warga KRW Filipi di Villa Tirta Kamandanu Pandaan Pasuruan
Warga KRW Filipi yang melakukan Retreat di Villa Tirta Kamandanu kawasan Prigen Pandaan Pasuruan, Minggu (9/11/2025).


Retreat KRW Filipi

Retreat KRW Filipi berlangsung selama 2 hari 8-9 November dengan diikuti oleh sekitar 70 warga lintas generasi baik balita, anak-anak, remaja, pemuda, dan Adi Yuswo dengan mengambil Tema Bangkit dan Bersinar: Hidup dalam Terang Kristus, Menyala Abangku.

Acara berlangsung seru dan meriah dengan game seru dan refleksi warga agar warga KRW Filipi tetap guyub rukun dan care (peduli) terhadap warga lainnya.

“Mari kita hidup saling menyapa dan senyum kepada yang lain,” kata Pendeta Noven dalam refleksi dan diskusi malam.

Bapak Noerjan Hariadi atau biasa dipanggil Pak Didik menyatakan sangat tersentuh dengan terselenggaranya, retreat ini sesuai rencana yang tepat , tidak ada kendala yang serius.

“Bila ada kekurangan , kelupaan itu pasti ada sekecil sudah manusiawi, tidak ada yang sempurna kecuali Sang Pencipta. TUHAN,” tandas Pak Didik.

Ibu Maria Orpha yang mengaku usianya menjelang 80 tahun menyatakan hal yang sama bahwa sangat terharu dengan pelaksanaan Retreat yang diselenggarakan oleh KRW Filipi dengan pelayanan dari panitia dan makanan yang enak.

Teddy Ardianto

Leave a Reply