Iman dan Kepedulian Lingkungan Tak Terpisahkan, Buku Etika Bumi Baru Dibedah dalam Jagongan Bulan Penciptaan 2026
Di tengah krisis lingkungan global yang kian mengkhawatirkan, kepedulian ekologis masih kerap dipandang terpisah dari praktik iman. Kerusakan bumi terus terjadi, namun etika pengelolaan lingkungan belum sepenuhnya dianggap sebagai bagian dari panggilan spiritual, termasuk dalam kehidupan umat beriman.
Persoalan ini menjadi sorotan utama dalam buku Etika Bumi Baru – Akses Etika Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup karya teolog Robert P. Borrong, terbitan BPK Gunung Mulia. Buku tersebut menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup bukan isu tambahan, melainkan bagian utuh dari iman Kristen yang hidup, reflektif, dan bertanggung jawab.
Pemikiran tersebut akan dibahas lebih mendalam dalam agenda Jagongan & Bedah Buku Etika Bumi Baru yang digelar dalam rangka Bulan Penciptaan 2026. Kegiatan ini menghadirkan Pdt. Dr. Budi Cahyono sebagai pembawa materi.
“Kerusakan lingkungan bukan hanya soal teknis atau ekonomi, tetapi juga persoalan etika dan spiritualitas manusia,” demikian salah satu gagasan utama yang diangkat dalam buku karya Robert P. Borrong.
Iman Kristen dan Etika Lingkungan
Dalam Etika Bumi Baru, Robert P. Borrong mengkritik paradigma antroposentris—pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam tanpa batas. Paradigma ini, menurutnya, menjadi akar dari eksploitasi sumber daya alam dan krisis ekologi global.
Borrong menawarkan pendekatan Etika Bumi Baru (Neo-Eco Ethics), yakni sebuah kerangka etika yang menempatkan manusia dan alam sebagai sesama ciptaan yang saling terkait dan setara dalam ekosistem. Ia menekankan bahwa alam memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar alat pemuas kepentingan ekonomi manusia.
“Manusia dipanggil bukan untuk menguasai secara sewenang-wenang, melainkan untuk mengelola dan memelihara bumi sebagai bagian dari tanggung jawab imannya,” tulis Borrong dalam bukunya.
Dari perspektif teologi Kristen, buku ini menggarisbawahi pentingnya etika kepelayanan, solidaritas, dan kehidupan, serta peran gereja dalam membangun kesadaran ekologis umat. Gereja dipandang memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat aktif dalam upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan hidup.
Ringkasan Buku Etika Bumi Baru
Buku setebal 301 halaman ini membahas krisis lingkungan dari sudut pandang etika, teologi, dan ekologi secara komprehensif. Robert P. Borrong menguraikan hubungan antara eksploitasi sumber daya alam, kepentingan ekonomi, perkembangan teknologi, dan kemerosotan moral manusia.
Beberapa pokok penting dalam buku ini antara lain:
- Kritik terhadap etika antroposentris yang memicu eksploitasi alam.
- Pengenalan konsep deep ecology yang menekankan nilai intrinsik seluruh makhluk hidup.
- Penegasan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dihormati, bukan disakralkan atau dieksploitasi.
- Peran teologi Kristen dalam membangun etika lingkungan yang berkelanjutan.
- Ajakan kepada gereja dan masyarakat untuk terlibat aktif menjaga keseimbangan ekosistem.
Borrong menutup bukunya dengan seruan agar gereja-gereja di Indonesia melakukan kajian teologi lingkungan secara berkelanjutan dan menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata.
Ajak Refleksi dan Aksi Nyata
Melalui Jagongan & Bedah Buku ini, peserta diajak berdiskusi dan merefleksikan bagaimana iman dapat diwujudkan dalam tindakan konkret menjaga bumi sebagai ciptaan Tuhan.
“Iman yang hidup selalu terwujud dalam tanggung jawab nyata, termasuk dalam cara kita memperlakukan alam,” menjadi pesan kunci yang diharapkan dapat dibawa pulang oleh para peserta.
Agenda Kegiatan:
- Hari/Tanggal: Sabtu, 31 Januari 2026
- Waktu: Pukul 17.00 WIB
- Acara: Jagongan & Bedah Buku Etika Bumi Baru
- Pembicara: Pdt. Dr. Budi Cahyono
- Tempat: GKJW Sidoarjo Jalan Kombes no 66
Leave a Reply