Ibadah Perjamuan Kudus Masa Natal: Ojo Kagetan, Nggumunan, dan Gupuhan

Ibadah Perjamuan Kudus Masa Natal: Ojo Kagetan, Nggumunan, dan Gupuhan

Sidoarjo — Minggu Adven kembali menjadi momentum bagi umat Kristen untuk merenungkan makna penantian akan kedatangan Yesus Kristus.

Dengan Tema Liturgis “Menanti Sang Jati dalam Bakti” yang diangkat dari Matius 24:36–44, ibadah Minggu dan Perjamuan Kudus kali ini mengajak umat untuk menata batin, memperkuat iman, serta hidup dalam kewaspadaan rohani.

Pendeta Noven Rudy Nataniel, S.Si, selaku pengkhotbah, menjelaskan bahwa masa Adven bukan hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi kesempatan bagi umat untuk memperbaiki diri dan fokus pada relasi dengan Tuhan.

“Adven adalah masa penantian akan kedatangan Tuhan Yesus. Masa ini menguatkan kita untuk menantikan kedatangan-Nya dalam pertobatan dan terus menjaga iman,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tema “Menanti Sang Jati dalam Bakti” mengajak umat untuk memusatkan hati dan pikiran kepada Kristus sebagai kebenaran sejati. “Dalam masa penantian ini, umat dipanggil untuk memperdalam iman dan memperbaharui komitmen mereka dalam pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan,” ujarnya.


Ilustrasi Tumbler yang Viral, Cermin Kurangnya Penguasaan Diri

Dalam khotbahnya, Pdt. Noven menarik perhatian jemaat dengan contoh fenomena sosial yang belakangan ramai di media: kasus viral tumbler yang menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan. Dengan gaya komunikatif, ia menegaskan bahwa persoalan kecil dapat menjadi besar ketika seseorang tidak memiliki kesiapan batin.

“Beberapa waktu lalu kita mengetahui bahwa gara-gara tumbler ada seseorang yang kehilangan pekerjaannya. Gara-gara tumbler, ia dihujat di media sosial, harus jumpa pers, klarifikasi, dan menyesali perbuatannya,” ungkapnya.

Pdt. Noven menekankan bahwa masalah sederhana seharusnya tidak menjelma menjadi bencana besar jika seseorang mampu menguasai diri. “Ketika hati tidak siap, penguasaan diri tidak siap, hal yang sederhana bisa menimbulkan masalah besar. Namun persoalan besar sekalipun dapat dijalani dengan baik bila kita menghadapinya dengan kewaspadaan dan penguasaan diri,” jelasnya.

Ia lalu mengutip pepatah Jawa yang relevan dengan pesan kewaspadaan tersebut. “Orang Jawa itu mengingatkan: dadi wong iku ojo kagetan, ojo nggumunan, ojo gupuhan. Artinya kita diajak untuk tidak mudah panik, tidak mudah gelisah, dan tidak gegabah,” terang Pdt. Noven.


Waspada di Era Digital: Marak Penipuan dan Manipulasi Media Sosial

Selain persoalan tumbler, Pdt. Noven juga menyinggung maraknya perilaku scammer di era digital. Ia menjelaskan bagaimana penipuan modern memanfaatkan wajah selebritis, video call palsu, hingga modus pekerjaan mudah dengan imbalan besar.

“Sekarang scammer berkembang pesat. Ada yang pakai video call seolah-olah artis, ada yang kasih link hadiah palsu, bahkan ada yang menawarkan kerja nonton video dapat uang tapi ujung-ujungnya kita yang kehilangan uang,” katanya.

Menurut Pdt. Noven, kewaspadaan tidak hanya penting dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam hal kerohanian. “Kalau dalam urusan dunia saja kita harus berhati-hati, terlebih lagi dalam urusan rohani. Ada orang yang memakai nama Tuhan untuk menakut-nakuti atau menggoyahkan iman demi keuntungan pribadi,” tegasnya.

Ia memperingatkan bahwa perdebatan soal agama di media sosial sering kali tidak berfokus pada kebenaran, melainkan sekadar mengejar viralitas. Umat diingatkan agar tidak terbawa arus kebencian. “Tanpa sadar kita terbawa arus permusuhan sehingga jauh dari apa yang Tuhan inginkan, yaitu hidup dalam kasih dan pengampunan,” ujarnya.


Berjaga-jaga dan Tetap Fokus pada Kehadiran Tuhan

Mengacu pada Matius 24:36–44, Pdt. Noven mengajak jemaat untuk memahami makna berjaga-jaga secara rohani, yakni hidup dalam kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

“Berjaga-jaga berarti hidup dengan kesadaran rohani. Kita diajak tetap peka supaya tidak terbawa arus dunia yang saling membenci,” terangnya.

Ia memberikan contoh sederhana terkait fokus dalam kehidupan. Jemaat diajak merenungkan bagaimana mereka bisa fokus berjam-jam menonton film atau bermain ponsel, namun sulit fokus ketika berada di gereja.

“Jika kita mampu menaruh hati kita sungguh-sungguh di dalam Tuhan, maka ibadah pun akan terasa menyenangkan dan tidak membuat gelisah,” pesannya.


Ajakan Hidup Sopan dan Bertobat

Pdt. Noven juga menegaskan bahwa siap sedia menyambut Tuhan berarti menjalani hidup dengan sopan dan memperbaiki diri. Mengutip Roma 13, ia mengingatkan jemaat untuk meninggalkan kehidupan yang dikuasai hawa nafsu, perselisihan, dan iri hati.

“Hiduplah dengan sopan. Jangan dalam pesta pora, kemabukan, atau pertengkaran. Hidup yang baik adalah hidup yang ditaruh di dalam Tuhan,” jelasnya.

Ia lalu menutup dengan pertanyaan reflektif: “Seandainya Tuhan datang hari ini, apakah kita sudah siap?”

Menurutnya, hanya Tuhan yang mengetahui waktu kedatangan-Nya, sehingga yang dapat dilakukan umat adalah tetap waspada dan melakukan kebaikan.


Pdt. Noven kembali menegaskan pentingnya penguasaan diri dan kewaspadaan dalam menghadapi persoalan hidup, kecil maupun besar.

“Mari kita belajar menguasai diri, supaya persoalan tumbler tidak menjadi masalah besar, dan supaya kita mampu hidup dengan segala kewaspadaan dalam Kristus Yesus,” tutupnya.


Teddy Ardianto

Leave a Reply