Calon Sidi di Sugihwaras, Pendeta Budi Ungkap Sejarah hingga Tokoh Legendaris Gunung Kelud
Kediri – Suasana mendung dan hujan rintik dengan udara sejuk pegunungan menyambut rombongan warga Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidoarjo saat tiba di Jemaat GKJW Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Sebanyak 25 orang yang terdiri dari pendamping dan 16 remaja calon sidi mengikuti kegiatan pemantapan akhir yang digelar pada Minggu (16/11/2025).
Setibanya di lokasi, rombongan langsung disambut hangat oleh Pendeta Budi Susilo. Mereka dipersilakan menikmati teh dan kopi hangat yang disertai camilan yaitu tahu petis.
Dalam sesi pembukaan, Pendeta Budi memperkenalkan Jemaat Sugihwaras beserta sejarah dan karakteristik wilayah tersebut. Ia menyelipkan sapaan khas yang sekaligus menjadi pengingat bagi jemaat.
“Selamat datang di Sugihwaras, kalau waras (sehat) kita akan sugih (kaya),” ujar Pendeta Budi Susilo.
Pendeta Budi juga menceritakan sejarah berdirinya jemaat serta memperkenalkan tokoh legendaris yang tak lepas dari tradisi masyarakat sekitar Gunung Kelud.
Ia menyebut Mbah Tunggul Wulung sebagai sosok yang namanya selalu disebut dalam ritual larung sesaji di kawah Gunung Kelud.
“Mbah Tunggul Wulung dalam setiap acara larung sesaji namanya selalu disebut oleh para pemimpin doa lintas agama,” jelasnya.
Negari Karunia Adi Kupas Sosok Tunggul Wulung
Penjelasan lebih dalam mengenai tokoh Tunggul Wulung disampaikan oleh Penatua Negari Karunia Adi dalam khotbah Minggu 16 November di GKJW Sugihwaras.
Negari Karunia Adi yang juga penulis buku tentang Kekristenan Jawa dengan judul Yesus Kristus Rohullah menyatakan Tunggul Wulung atau Kyai Ibrahim Tunggul Wulung sebelumnya bernama RM Tondo atau Raden Mas Ngabehi Tandokusumo, keturunan Mangkunegara I.
“Beliau (Tunggul Wulung) adalah keturunan pangeran Sambernyowo,” kata Penatua Negari.
Tunggul Wulung adalah pendukung Pangeran Diponegoro. Dalam perang Jawa (1825-1830) Pangeran Diponegoro kalah membuat ekonomi dan politik Jawa kocar-kacir serta morat-marit.
Pangeran Diponegoro disingkirkan oleh VOC Belanda ke Sulawesi begitu juga dengan pendukungnya termasuk Tunggul Wulung tersingkir dan menjadi mlarat.
“Saking miskinnya dia menjadi perampok dan dikejar-kejar,” kata Negari.
Kemudian dia lari ke Kediri dan pelariannya diperkirakan di Dagangan di rumah pamannya yaitu Trogati (RM Dirjakusuma).
Di rumah pamannya ini Tunggul Wulung ngelmu karena pamannya ini (Trogati) belajar kejawen Kristen dari Coenrad Laurens Coolen (Mbah Coolen).
Tunggul Wulung ini perawakannya mirip dengan Pamannya yang digambarkan oleh orang-orang Desa Maron berperawakan tinggi, pandangan matanya tajam memelihara janggut dan cambang.
“Saya ini termasuk keturunan Tunggul Wulung,”ujar Negari.
Pamannya ini (RM Dirjokusumo) memperkenalkan Tunggul Wulung ke Coolen. Selanjutnya Tunggul Wulung berguru langsung kepada Coolen dan tinggal di Ngoro Jombang dan pernah belajar ke guru-guru Kejawen Kristen di Sidokare Sidoarjo.
“Dia (Tunggul Wulung) mengenal Tuhan dengan Teologi yang gak njlimet dari Coolen yang disesuaikan dengan adat istiadat dan budaya Jawa,” tandas Negari.
Tunggul Wulung dibaptis oleh Pdt JE Jellesma pada tanggal 5 Juni 1854 (nama yang tertulis dalam buku baptis Ibrahim Ngono (Tunggul Wulung) dengan nomer urut 1753.
Tunggul Wulung memberitakan injil di desa-desa wilayah Malang hingga tumbuh sejumlah komunitas dan Paguyuban di Kepanjen, Jenggrik hingga Junggo Pandaan.
Setelah dari Jawa Timur kemudian ia pergi ke Jawa Tengah dan di sana sangat terkenal dalam Pekabaran injil sehingga dijuluki ‘Rasul Jawa’.
“Desa Kayuapu sebelah utara Kudus di lereng bagian selatan Gunung Muria adalah desa pertama yang dikunjungi Tunggul Wulung,”jelas Negari.
Penatua Negari Karunia Adi berharap agar generasi muda GKJW untuk mengenal kembali sejarah dan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perjalanan kekristenan di tanah Jawa.

Kegiatan Pemantapan Calon Sidi
Kegiatan pemantapan calon sidi Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) berlangsung selama dua hari, pada 15–16 November 2025, dengan melibatkan 16 peserta dari GKJW Sidoarjo. Para calon sidi menjalani program live in di rumah-rumah warga Jemaat GKJW Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
Selama kegiatan, para peserta tinggal bersama orang tua asuh dan memimpin doa di rumah warga sebagai bagian dari proses pendampingan spiritual. Program ini menjadi tahap akhir sebelum para remaja menerima pengakuan sidi secara resmi.
Penatua Sarjono dari Komisi Katekisasi GKJW Sidoarjo menyampaikan rasa syukurnya karena kegiatan dapat berlangsung baik meski digelar di daerah lereng Gunung Kelud.
“Pemantapan ini memberikan pengalaman baru bagi anak-anak calon sidi bahwa GKJW itu ada di mana-mana, termasuk di lereng Gunung Kelud,” ujar Penatua Sarjono.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama pemantapan ini adalah memperdalam pemahaman para peserta tentang identitas mereka sebagai orang Kristen, sekaligus meneguhkan komitmen mereka dalam hidup beriman.
“Dengan pemantapan ini, anak-anak bisa paham menjadi orang Kristen dan melihat komitmen ke depan dalam menjalani hidup sebagai orang Kristen di tanah Jawa,” tambahnya.
Kegiatan pemantapan sidi ini diharapkan dapat membentuk kedewasaan rohani para remaja sekaligus memperkuat ikatan antarjemaat GKJW, khususnya antara Sidoarjo dan Sugihwaras. (ted)
Leave a Reply