Tanamkan Karakter pada Anak bukan Semata Kejar Prestasi

Tanamkan Karakter pada Anak bukan Semata Kejar Prestasi

Di tengah arus kompetisi yang kian menuntut anak untuk berprestasi, pesan mendalam muncul dari Bincang Sore bertema “Fatherless: Ada Belum Tentu Hadir” di GKJW Sidoarjo.

Dalam diskusi pembangunan karakter anak jauh lebih penting daripada sekadar pencapaian akademik atau prestasi lahiriah.

Menurutnya, karakter yang kuat hanya dapat tumbuh dari kehadiran figur ayah dan ibu yang utuh—hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara jiwa dan emosi.

Demikian benang merah dari kegiatan Bincang Sore dengan tema “Fatherless: Ada Belum Tentu Hadir”, Sabtu (26/10/2025) di Jalan Kombespol M. Duriyat No.88, Sidoarjo.

Acara yang dimulai pukul 17.00 WIB ini menghadirkan Sastra Budiharja Santoso, S.Psi., M.Th sebagai pembicara dan Pratiwi Anjarsari, S.Psi., M.Psi. sebagai moderator.

Dalam awal perbincangan Pratiwi mencoba mengungkap riset ketertinggalan Indonesia yang menjadi penyebab salah satunya adalah Fatherless.

Dalam perbincangan tersebut, Sastra yang juga sebagai manajer di Petra Karir Center Universitas Kristen Petra menyoroti istilah fatherless yang belakangan sering digunakan untuk menggambarkan kondisi anak tanpa kehadiran figur ayah. Namun, ia mengaku kurang setuju dengan istilah tersebut.

“Saya sendiri enggak terlalu suka pakai istilah fatherless. Secara teoritik memang sering dipakai, tapi saya lebih nyaman menggunakan istilah father absence,” ujar Sastra dalam paparannya.

Menurutnya, istilah fatherless memberi kesan bahwa sang ayah sama sekali tidak ada, sementara dalam banyak kasus, sang ayah sebenarnya hadir secara fisik atau finansial namun tidak benar-benar hadir secara jiwa.

Sastra juga menyinggung konsep father involvement atau keterlibatan ayah terhadap anak, yang menurutnya harus dilihat bukan hanya dari waktu atau aktivitas yang dilakukan ayah, tetapi dari sudut pandang sang anak.

“Pertanyaannya bukan seberapa sering ayah menemani anak, tapi bagaimana anak memaknai kehadiran ayahnya. Apakah ia merasa ayahnya benar-benar hadir dalam hidupnya?” katanya.

Lebih jauh, Sastra menjelaskan bahwa ayah memiliki peran unik yang tidak bisa digantikan oleh ibu. Ia menggambarkan ayah sebagai “figur kelekatan kedua” setelah ibu—sosok yang menjadi jembatan antara anak dan dunia luar.

“Ibu adalah rumah, tempat anak merasa aman dan dicintai. Sedangkan ayah adalah jendela menuju dunia luar. Ia mengajarkan anak berani menghadapi tantangan,” tuturnya.

Dalam penjelasannya, Sastra membandingkan pola komunikasi dan permainan antara ayah dan ibu. Ibu, menurutnya, cenderung lembut, penuh empati, dan fokus pada keamanan emosional. Sementara ayah mendorong anak untuk bereksplorasi dan mengembangkan keberanian.

“Permainan ibu biasanya tenang dan menenangkan, sementara ayah sering smackdown-smackdownan, lempar-lemparan bantal, atau permainan yang memacu adrenalin. Tapi justru dari situ anak belajar menghadapi risiko dan menjadi berani,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa kehadiran ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dan tidak dapat dipertukarkan.

“Ibu menanamkan kasih, sementara ayah menyalakan arah dan memberikan tujuan. Ibu menyediakan tempat untuk kembali, sedangkan ayah menyiapkan langkah untuk pergi,” ujar Sastra.

Menurutnya, ketika ayah tidak hadir secara utuh, anak akan kehilangan sosok yang menanamkan arah hidup, keberanian, serta kompas moral.

Hal ini dapat berujung pada krisis identitas, rendahnya kepercayaan diri, dan lemahnya pengendalian emosi anak.

Stabilitas Kasih dan Identitas Anak

Dalam sesi lanjutan, Sastra mengajak peserta untuk mengingat pentingnya mengisi kebutuhan emosional anak dengan kasih yang stabil, bukan sekadar tuntutan akan performa atau prestasi.

“Jangan kehilangan kesempatan untuk mengisi kebutuhan ini. Kalau kebutuhan ini kita isi, attachment terjalin, rekonsiliasi ada. Dasarnya adalah stabilitas kasih, bukan dinamika performa dan ketaatan,” katanya.

Ia mengibaratkan keluarga seperti pohon yang memiliki akar, dahan, batang, dan buah. Akar melambangkan rasa aman anak yang tumbuh dari kasih dan kehadiran orang tua.

Dahan mencerminkan identitas yang kuat, dibangun melalui penerimaan dan afirmasi positif dari ayah dan ibu.

Batang menjadi simbol arah dan kompas moral yang ditanamkan ayah.

Sementara buah adalah potensi anak yang dikembangkan agar berdampak bagi lingkungan.

“Kalau yang kita afirmasi hanya prestasi, maka anak hanya akan mengejar achievement dan meninggalkan karakter. Tapi kalau karakter yang kita jaga, selama hidupnya ia akan berpegang pada nilai itu,” jelas Sastra.

Peran Ayah dan Ibu yang Saling Melengkapi

Sastra menambahkan bahwa ayah memiliki otoritas moral yang dititipkan oleh Allah, dan peran itu seharusnya dijalankan dengan kasih, bukan kekuasaan.

“Otoritas ayah adalah otoritas yang dititipkan oleh Allah Bapa. Jangan mempraktikkan otoritas berdasarkan kebenaran diri sendiri, tapi berdasar pada kebenaran Tuhan,” ujarnya seraya mengutip Efesus 6:4.

Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara ayah dan ibu dalam komunikasi keluarga. Menurutnya, ibu sering kali menjadi “corong verbal” bagi ayah yang cenderung diam, sehingga anak tetap bisa merasakan kasih dan arahan dari kedua orang tuanya.

“Komunikasi ibu itu verbal, sedangkan komunikasi bapak lewat aksi. Karena itu, ibu perlu menjadi tim yang kompak agar pesan kasih ayah tetap tersampaikan,” tutur Sastra.

Afirmasi Potensi Anak dan Pembentukan Karakter

Pada bagian akhir, Sastra mengajak para peserta untuk lebih fokus mengafirmasi potensi anak dibandingkan menuntut capaian tertentu.

“Tugas kita sebagai orang tua bukan menuntut, tapi mendorong. Katakan pada anak: ‘Kamu hebat karena peduli,’ atau ‘Kamu pemimpin yang baik.’ Afirmasi karakter seperti ini jauh lebih penting daripada memuji hasil semata,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar orang tua memeriksa kembali luka masa lalu yang mungkin diwariskan secara tidak sadar kepada anak.

“Kalau kita dulu tidak mendapatkan kasih dari orang tua, ada dua kemungkinan. Kita tidak memberi kasih itu kepada anak, atau malah kebablasan menjadi terlalu permisif. Maka kita perlu menakar kembali, apakah pola kita sudah sesuai dengan kebenaran Tuhan,” tambahnya.

Menjadi Ayah bagi Banyak Anak

Sastra kemudian memperkenalkan konsep “inner father”—yakni gambaran pribadi seseorang tentang sosok ayah di dalam dirinya. Jika gambaran ini rusak atau tidak lengkap, maka seseorang cenderung kesulitan menjadi ayah yang sehat bagi anak-anaknya.

“Kalau inner father dalam diri kita tidak beres, kita akan kesulitan menjadi ayah yang benar. Tapi hal ini bisa dipulihkan lewat relasi dengan figur ayah yang lain, termasuk komunitas gereja,” jelasnya.

Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang menemukan figur ayah baru dari seorang pendeta dan teman di gereja, yang menunjukkan bahwa kasih ayah bisa dipelajari dari komunitas.

“Saya belajar bahwa menjadi ayah tidak harus biologis. Kita semua bisa menjadi ayah bagi anak-anak rohani di gereja atau di sekitar kita. Gereja dipanggil untuk saling melengkapi, agar siklus father absence tidak terus menurun,” katanya.

Panggilan Gereja: Memiliki Hati Seorang Bapa

Menutup sesi, Sastra mengingatkan kembali perumpamaan anak yang hilang. Menurutnya, pesan utama kisah itu bukan hanya tentang anak yang kembali kepada bapanya, tetapi juga tentang bagaimana semua orang percaya dipanggil untuk memiliki hati seorang bapa.

“Fungsi gereja bukan hanya menjadi rumah bagi yang hilang, tapi juga tempat membentuk hati kebapaan bagi setiap umat. Inilah panggilan kita bersama sebagai komunitas anak-anak Allah,” pungkasnya. (ted)

Teddy Ardianto

Leave a Reply